Senin, 16 Desember 2013

Dear sahabat baru ku, Si Utih..



Karya : Hilda Oktarina Santoso

Setiap hariku terasa begitu indah, setiap detik ku dihiasi oleh tawa mu, setiap hariku dihiasi oleh canda kegirangan mu. Ya bisa dibayangkan betapa indahnya hari-hari ku. Hari dimana biasanya aku beraktivitas didunia kampus ku. Sekarang aku sudah melewati semester tiga ku. Semester dimana benar-benar aku diuji, orang-orang terdekat ku mulai pergi menjauhi ku. Orang-orang terdekat ku diuji dengan berbagai masalah. Jarak yang dahulu serasa tak pernah ada dan takkan bisa memisahkan sekarang terasa begitu jauh. Entah apa sebab musababnya, tak begitu jelas, tak begitu ada kejelasan dan tak bisa pula untuk dijelaskan. Mungkin memang kesalahan ku, aku kurang sadar akan keberadaan diri ini. Sehingga orang-orang diseritar ku, orang-orang yang dahulunya menyukai ku, orang-orang yang dahulunya mau bercengkramah akrab dengan ku kini enggan untuk menyapa ku bahkan pergi menjauh dari ku. Begitu terlambatnya diri ini menyadari semua kelemahan diri. Dahulu biasanya orang-orang terdekat ku selalu setia berada disamping ku, dahulu orang-orang disekitar ku selalu membuat aku tertawa bahagia dengan canda tawa mereka. Dahulu orang-orang disekitar ku selalu membuat aku berdecak kagum dengan semua yang mereka lakukan serta orang-orang disekitar ku tak henti-hentinya untuk selalu menyemangati ku, rasanya indah bukan hidup ku dulu. Mereka selalu membuatku merasa bahagia dan tak pernah merasa sepi. Mungkin ini cara tuhan untuk menyadarkan ku, ya aku harus sadar!. Harus sadar dengan semua kesalahan yang sudah terlalu banyak aku lakukan. Meskipun aku sudah terlambat dan semuanya tak akan kembali seindah dulu. Awalnya hidupku terasa hampa dimana terasa tak ada yang mau menemaniku lagi, hal  ini bisa terjadi karena aku dahulu terlalu fokus pada sekelompok orang saja, sekelompok orang-orang yang aku kira menyayangi aku, orang-oarang yang aku kira akan selalu ada disampingku. Tapi ternyata aku salah, ya aku salah ternyata mereka malah pergi jauh meninggalkan ku. Bisa dibayangkan betapa terpuruknya aku pada masa itu. Masa dimana semuanya terasa begitu tega, begitu kejam meninggalkan aku yang dahulunya menjadi teman bagi mereka. Apakah mereka tak pernah berpikir bagaimana keadaan ku tanpa mereka? Apakah mereka tak pernah sejenak untuk peduli apa yang akan aku lakukan selepas beranjaknya mereka pergi meninggalkan aku? Dan apakah mereka berpikir bahwa  mereka sudah lelah dan bosan melihat tingkah ku? Entah, entah yang mana yang mereka pikirkan. Bisa jadi salah satu dari itu atau bahkan bisa jadi semuanya mereka pikirkan. Aku tak akan pernah bisa untuk mencoba menebaknya. Yang bisa aku rasakan hanyalah kepahitan setelah menelan manisnya rasa gula, dimana cukup kita tahu betapa jauhnya perbedaan rasa kedua itu. Aku terlalu terpuruk akan keadaan itu, bagaimana tidak keadaannya benar-benar jauh berubah 180 °. Aku tak pernah bisa berpikir dengan akal sehat ku dan berpikir dengan jernihnya hati ku dikala itu. Pikiran ku berserta hati ku terasa begitu membeku seperti batu yang tak perlu dimasukkan kedalam lemari pendingin untuk menjaga titik bekunya. Beku seperti tak ada yang bisa aku lakukan selepas mereka pergi, serta beku seperti tak ada lagi orang-orang yang akan berada disekitar ku. Ya itulah betapa pendeknya dan betapa balitanya pikiran ku untuk orang seusia ku. Tapi aku pikir itu wajar dan sah-sah saja, ya dikala itu aku benar-benar terasa begitu bodoh. Begitu lemah seakan tak bisa mengingat siapa diri ini, berasal dari mana, disini untuk apa, untuk berbuat apa, dan kemana pada akhirnya. Tak pernah ada terlintas dipikiran ku hal yang jauh seperti itu. Tak pernah terpikir bahwa semua itu memang tak ada yang abadi tetapi semuanya itu akan silih berganti menemani. Tak pernah terpikir bahwa semuanya ini hanyalah skenario kehidupan, dimana setiap orang bebas memainkan peran dan karakter sesuai pilihan skenario yang mereka pilih. Padahal aku sering berpikir bahkan mengemukakan kata-kata ini sebelumnya, sebelum pikiran ku kacau seperti yang ku rasakan kala itu. Ya inilah hidup terkadang terlalu banyak yang tak kita bisa mengerti. Terkadang terlalu banyak hal yang terjadi diluar yang kita duga dan rencanakan. Terkadang hal yang menurut kita indah belum tentu akan bahagia pada akhirnya. Sebaliknya hal yang tak pernah kita pikirkan, hal yang tak pernah kita bayangkan bahkan hal yang tak pernah kita rencanakan sekali pun akan berangsur-angsur terjadi dalam hidup ini. Setelah sejenak terdiam dan berpikir sekilas tentang itu aku mulai tersadar, sadar bahwa hidup ku ini indah. Ya ternyata inilah keindahan hidupku, betapa indahnya hidup ini dengan semua teka teki silang yang ada untuk menghiasinya. Indahnya hidup ini dengan semua aksi panggung para pemainnya yang sedang memerankan perannya dengan berganti-ganti skenario sesuka hati mereka. Tak pernah ada yang mencoba untuk berkomentar akan hal ini, bahkan sang Sutradara pun hanya diam membiarkan mereka beraksi dipanggung sesuka hati mereka. Membiarkan mereka mandiri dan melihat seberapa cekatan serta seberapa cerdaskah mereka dalam hal memilih, memilih sebuah pilihan dari banyaknya pilihan hidup yang ada yang telah dikemas dengan begitu indah sesuai dengan kodratnya masing-masing. Tentu semua pilihan ada ditangan masing-masing mereka. Kini ku rasa tiba saatnya aku beranjak bangun dari semua keterpurukan yang aku hadapi. Ku rasa sudah cukup waktunya berdiam diri tanpa aksi, ku rasa sudah cukup membeku dalam dinginnya suasana yang tak berujung. Bangkit! ya kata itulah yang seharusnya aku lakukan saat ini, bangkit untuk kembali mengingat apa tujuan aku ada disini dan apa yang akan aku lakukan disini. Bukankah cukup sulit bagi ku dahulu untuk merasakan bisa hidup seperti ini, bukankah bagi ku dulu hal seperti  ini hanyalah mimipi yang mungkin saja takkan pernah bisa aku gapai. Tetapi Tuhan telah mendengarkan doa ku, doa dimana ada keinginan kuat ku untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dan dapat menyelesaikannya dengan baik. Apakah aku benar-benar lupa akan mimpi ku dulu hanya karena kepergian mereka yang baru juga aku kenal di dunia kampus ini. Mungkin bisa aku mengerti, aku yang tak pantas berteman dengan mereka atau mereka yang kurang baik untuk berteman dengan ku. Ya kurasa jawabannya ada pada kedua hal tersebut, karena sudah kita ketahui bahwa tuhan itu akan memberikan jalan terbaik untuk umatnya, meskipun kita rasa hal itu bukan yang terbaik tapi ya itulah jalan yang Tuhan berikan. Kita harus bisa mencermati hikmah apa yang terkandung pada setiap kejadian yang menimpa kita, berpikir positif terhadap semuanya adalah hal yang bisa kita lakukan setelah menyadarinya, maka akan ada kesimpulan terhadap hal indah yang akan kita mengerti. Hidup ini ku rasa sangat mudah dan indah, ketika kita bisa melintas pada poros yang ada dan sesuai dengan orbitnya masing-masing seperti banyaknya benda angkasa di langit sana. Mereka selalu teratur dan berputar dengan kala rotasinya masing-masing, tak ada saling bertabrakan antar mereka. Hal itu sebenarnya bisa saja terjadi ketika mereka tidak lagi berputar pada poros dan orbitnya. Apakah hal itu akan sama terjadi pada kita? Ku rasa iya, hal yang sama akan terjadi pada kita, menyerobot masuk ke dalam peran dan kehidupan orang lain tanpa tahu apa yang kita lakukan, ketika kita tidak menyadari bahwa telah melangkah jauh dari otbit kita.
***
Dear sahabat baru ku, si utih..                     
Setelah ku ceritakan betapa terpuruknya hari-hari ku tadi, ku rasa sudah cukup untuk season kegalauanya. Ya telah ku rasakan indahnya kembali hidup ku ini dan telah aku dapatkan kembali teman yang ku rasa jauh lebih baik dari mereka. Mungkin ini yang Tuhan berikan dan Tuhan rencanakan untuk ku sebelumnya. Seperti yang aku ceritakan tadi, ternyata memang benar kata bijak yang berkata Ketika satu pintu tertutup, maka akan ada pintu-pintu lain yang terbuka, tetapi karena kita terlalu terpuruk dan menyesali pintu yang tertutup itu terlalu lama, maka tak terlihat akan pintu yang terbuka itu”. Ini benar-benar aku rasakan, aku tak pernah melihat ternyata banyak sekali hal yang indah, hal yang lebih penting yang akan aku terima dibalik dari semua apa yang terjadi pada hidup ku ini. Tetapi karena aku terlalu sibuk dalam keterpurukan yang ku alami. Sehingga aku tak pernah melihat sekitaran ku lagi dengan kejernihan hati ini. Tak terlihat oleh ku masih banyaknya orang-orang yang masih sayang, orang-orang yang masih peduli, orang-orang yang mau bercengkramah akrab dengan ku, orang-orang yang masih ada untuk menyemangati ku, orang-orang yang masih mau membantu ku, dan orang-orang yang selalu setia disamping ku serta memfasilitasi hidup ku selama ini. Ya mereka ternyata masih ada disamping ku hanya saja untuk sebagian dari mereka silih berganti dengan orang lain dan orang-orang yang baru. Dan sepertinya hal itu tak mengapa dan tak masalah, hal yang ini tak pernah aku sadari kala masa keterpurukan itu datang. Masih ada orang tua ku yang selalu menyanyangiku dan tak pernah berhenti untuk itu sampai akhir mata, serta selalu memfasilitasi hidupku yang tak dapat dihitung dengan nilai angka yang tepat. Masih ada teman-teman yang lain yang ternyata masih peduli dan berusaha menyemangaati ku. Masih ada sosok teman yang ku rasa lebih dominan dan selama ini selalu mencoba membantu ku dan menghiasi hari-hari ku disemester ini tanpa aku sadari keberadaannya secara langsung. Ya itu kamu, Si Utih. Yang tak pernah sebelumnya aku pikirkan akan keberadaan mu disamping ku. Padahal sebelumnya kita tak pernah dekat. Kita memang berteman sebelumnya, hanya saja pertemanan kita tergolong biasa saja hanya sebatas teman di dalam kelas.Ya itu karena kita sebelumnya aku hanya berpaku pada satu bahkan sekelompok teman saja. Diri mu sering terlihat dimata ku, sering juga betegur sapa bahkan bercanda tawa sebelumnya, tapi hanya sebatas basa-basi saja dalam sebuah interaksi sosial sebagai teman. Dalam penglihatan ku dulu diri mu itu sangat pendiam dan terlihat ayu dengan balutan pakaian yang sering kau gunakan saat dikampus, terlihat anggun dengan sikap yang penuh kelembutan. Sepertinya semua juga akan sependapat dengan ku akan hal yang aku katakan ini. Ya aku kagum dengan cara mu, pernah juga terlintas dalam pikiran ku untuk berteman akrab dengan mu tapi aku tak pernah tahu bagaimana cara untuk memulainya. Aku berpikir jika aku bisa berteman dengan mu mungkin sikap ku akan berubah sedikit pendiam dan terlihat ayu seperti mu, ya tentu saja aku berpikir teman sangat mempengaruhi kita dalam hidup ini apalagi setelah hal yang aku ceritakan sebelumnya tadi. Hal ini ku rasakan setiap harinya, aku berusaha untuk memantaskan diri ku, berubah menyesuaikan keadaan untuk bisa beradaptasi dengan mu. Ku rasa hal ini bisa sedikit membuka jalan ku untuk berteman dengan mu, karena aku pikir diri mu bukanlah seperti teman-teman yang lain yang sering bersenda gurau dengan ku, ku pikir diri mu hanya akan berbicara sepentingnya saja mengingat hal apa yang akan kamu bicarakan. Dengan berbagai pertimbangan inilah aku berusaha untuk bisa berteman dengan mu, image positif yang ada pada pikiran ku tentang mu yang menjadi keinginan kuat ku untuk bisa berteman akrab dengan mu. Dan tentu dalam harap ku, kamu itu  bukan seperti teman-teman ku yang dulu berada disampig ku dan pada akhirnya pergi meninggalkan ku. Ku rasa kau tak sama dengan mereka, ku rasa kau mempunyai pemikiran yang berbeda dan akan bersikap lebih bijak dari mereka ketika tingkah ku mungkin pada saatnya nanti membosankan bagi mu. Ya itulah secerca harapan yang ada dibenak ku dulu sebelum ku bisa berteman akrab dengan mu, yang intinya aku sangat berharap akan ada sedikit perubahan pada diri ku ketika aku bisa berteman dengan mu dan hadir mu akan menuntun ku lebih baik lagi dari saat ini. Tanpa ku sadari ternyata sekarang hal itu terjadi, sekarang aku merasa bisa berteman akrab dengan mu. Di akhir semester tiga ini ku rasa banyak sekali hal-hal indah yang ku lalui bersama mu kawan, banyak sekali cerita yang bisa ku tulis bersama mu, banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil yang telah aku lalui bersama mu. Entah dari mana awalnya aku tak tahu pasti akan hal ini, semuanya berjalan begitu saja. Yang ku ingat kerja kelompok yang membuat kita bisa seakrab ini, karena seperti yang aku ingat disemester ini sering sekali kita kerja kelompok bareng. Mungkin itulah awal dari keakraban kita, selain itu mungkin ini juga adalah jalan yang diberikan Tuhan setelah banyaknya harapku untuk bisa berteman akrab dengan mu. Atau mungkin bisa jadi ini pertanda bahwa Tuhan pun sependapat dengan yang ada dipikiran ku tentang mu seperti yang aku ceritakan tadi, ya bisa jadi. Bahwa hadir mu akan membawa perubahan lebih baik lagi pada diri ini dan menghiasi hari-hari ku dengan lebih indah lagi. Itu memang benar terjadi karena seperti yang ku rasakan betapa indahnya hidup ku setelah ku bisa mengenal mu sebagai teman akrab ku. Kita bisa bercerita bersama, bercengkramah tentang suatu hal yang sama dan sedang kita pikirkan. Kita menyelesaikan tugas kuliah bareng, nonton bareng, hunting foto bareng, seru-seruan bareng, bahkan aku ingat sekali sebelum hal yang kita lakukan bersama ini sebelumnya kau telah memeberikan aku kepercayaan sekaligus menolong ku, ya aku ingat kejadian yang mana kau bersedia meminjamkan uang kepada ku untuk keperluan study tour yang diadakan oleh prodi kita, uang yang mau ku pinjam juga tidak dalam jumlah yang sedikit tetapi kau tak ragu untuk meminjamkannya. Padahal kita belum begitu akrab pada saat itu, tanpa curiga dan dengan kebaikan hatimu kau bersedia meminjamkannya pada ku. Untuk berniat meminjam kepada mu itu saja aku perlu berpikir ulang, berpikir apakah kau akan mau meminjamkannya pada ku, sempat aku berpikir untuk meminjam dengan teman yang aku anggap akrab dengan ku sebelumnya, tapi sontak terlintas dipikiran ku bahwa dia tak akan meminjamkannya kepada ku dengan alasan yang bisa ku tebak. Kembali aku terpikir untuk tetap meminjamnya kepada mu, lewat pesan singkat SMS ku sampaikan maksud dan keperluan ku terhadap mu. Dan tak seberapa lama kau mengiyakan keinginan ku itu. Yang tak ku sangka sebelumnya kau akan meminjamkan uang mu kepada ku. Dari situ aku tambah merasakan kebaikan mu, bukan hanya itu masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang kau berikan kepada ku teman yang hanya bisa ku ingat dan ku ucapkan terimakasih berharap Tuhan akan membalasnya. Setiap hari ku lalui hari-hari ku bersama mu pada semseter tiga ini, ada yang merasakan bahagia dengan kedekatan kita ada juga yang mencoba mengusik karena alasan ketidak senangannya melihat keakraban kita. Ada yang berkomentar bahwa aku telah mengubah mu, dirimu berubah setelah mengenal ku. Sempat aku tercambuk apakah seburuk itu diri ini. Setelah dulu orang-orang sekitar ku menjauh dari ku, kini aku di judge telah merubah diri mu. Entah itu memang benar atau hanya pendapat dari ketidak senangan sebagian mereka. Tapi aku rasa juga seperti itu diri mu setelah berteman dengan ku, jadi ikut acara makrab dan begadang malem bersama teman-teman lainnya. Yang mereka saja tidak percaya kau akan ikut. Diri mu yang dulu sering berteman dengan mereka sekarang jarang bergabung. Mungkin karena itu mereka berpikiran aku telah merubah mu. Aku minta maaf jika hal itu memang benar terjadi, aku minta maaf jika aku benar-benar telah merubah mu, cukup kau yang bisa  merasakan apakah benar setelah berteman dengan ku terjadi perubahan yang jelek pada mu. Jika ia silahkan sampaikan kepada ku sebagai bahan intropeksi akan diri ini. Aku tak mau hanya karena aku, dirimu akan menjadi bahan komentar bagi mereka yang kurang menyukai ku. Aku sadar mungkin tingkah ku selama ini berlebihan, mungkin diri ku selama ini telah mengusik kenyamanan mereka. Tapi aku merasa kehadiran mu telah banyak mengubah hidup ku menjadi lebih baik lagi dan sangat mewarnai hidup ku kawan. Entah kalau kamu apa yang kamu rasakan? Apakah sama dengan yang ku rasakan, ataukah malah sebaliknya, merasa seperti komentar mereka tadi. Kawan ku harap kebersamaan kita disemester ini tidak hanya berakhir pada semeseter ini saja, karena aku tak mau hidup ku sepi seperti sebelumnya kawan. Sepi dimana seperti sebelum kita berteman akrab dan serasa dulu seperti disaat orang-orang terdekat ku pergi meninggalku. Jika nanti kawan tingkah ku membosan bagi mu, janganlah engkau pun beniat akan pergi juga meninggalkan ku. Karena seperti harap ku diawal, kau akan sedikit lebih bijak bersikap kepada ku. Tolong jika nanti tingkah ku salah dan berlebihan serta dapat membosankan bagi mu silahkan kau sampaikan kepada agar aku bisa segera sadar dan memperbaikinya. Sehingga aku tidak terlambat menyadari seperti halnya dulu. Aku berharap kita akan selalu kompak dan selalu bersama disemester depan, semester selanjutnya dan selanjutnya bahkan selamanya. Aku tak mau hidup ku sepi seperti sebelumnya. Karena jujur susah bagi ku untuk beradaptasi pada dunia kampus ini, satu tahun dan selama dua semster lalu aku berada di kampus ini aku belum merasakan kenyamanan, aku belum bisa mendapatkan teman yang benar-benar pas buat ku. Hql ini sering aku utarakan kepada sahabat jauh ku yang tak bisa menemani ku seperti kau menemani ku saat ini disini. Bahkan aku juga pernah bercerita kepada mu bahwa semester inilah aku merasakan indahnya hidup, merasakan hidup bebas, hidup seperti para mereka diluaran sana, hidup yang aku inginkan dan hidup yang aku suka. Ya itu bukan hanya sekedar kata-kata indah belaka saja kawan, tapi itu benar-benar aku rasakan, ku rasakan betapa indahnya hari-hari ku setelah aku mengenal mu, setelah aku bisa melalui hari-hari ku bersama mu kawan. Terimakasih untuk hari-hari indah disemester ini dan dalam harap ku kau tak akan merasa lelah dan bosan terhadap diri ku. Dan teruslah bersama ku hingga waktu yang mungkin akan benar-benar membuat kita terpisah..
***
Inilah secerca cerita dan harap ku bersama mu kawan diakhir semester tiga ini, bagian ini adalah salah satu bagian dari cerita yang akan aku muat dalam buku ku nanti, semoga bisa kecapai dan kesampaian niatnya.  Aamiin..
Terimakasih kawan..