Karya : Hilda Oktarina
Santoso
Setiap
hariku terasa begitu indah, setiap detik ku dihiasi oleh tawa mu, setiap hariku
dihiasi oleh canda kegirangan mu. Ya bisa dibayangkan betapa indahnya hari-hari
ku. Hari dimana biasanya aku beraktivitas didunia kampus ku. Sekarang aku sudah
melewati semester tiga ku. Semester dimana benar-benar aku diuji, orang-orang
terdekat ku mulai pergi menjauhi ku. Orang-orang terdekat ku diuji dengan
berbagai masalah. Jarak yang dahulu serasa tak pernah ada dan takkan bisa memisahkan
sekarang terasa begitu jauh. Entah apa sebab musababnya, tak begitu jelas, tak
begitu ada kejelasan dan tak bisa pula untuk dijelaskan. Mungkin memang
kesalahan ku, aku kurang sadar akan keberadaan diri ini. Sehingga orang-orang
diseritar ku, orang-orang yang dahulunya menyukai ku, orang-orang yang
dahulunya mau bercengkramah akrab dengan ku kini enggan untuk menyapa ku bahkan
pergi menjauh dari ku. Begitu terlambatnya diri ini menyadari semua kelemahan
diri. Dahulu biasanya orang-orang terdekat ku selalu setia berada disamping ku,
dahulu orang-orang disekitar ku selalu membuat aku tertawa bahagia dengan canda
tawa mereka. Dahulu orang-orang disekitar ku selalu membuat aku berdecak kagum
dengan semua yang mereka lakukan serta orang-orang disekitar ku tak
henti-hentinya untuk selalu menyemangati ku, rasanya indah bukan hidup ku dulu.
Mereka selalu membuatku merasa bahagia dan tak pernah merasa sepi. Mungkin ini
cara tuhan untuk menyadarkan ku, ya aku harus sadar!. Harus sadar dengan semua
kesalahan yang sudah terlalu banyak aku lakukan. Meskipun aku sudah terlambat
dan semuanya tak akan kembali seindah dulu. Awalnya hidupku terasa hampa dimana
terasa tak ada yang mau menemaniku lagi, hal
ini bisa terjadi karena aku dahulu terlalu fokus pada sekelompok orang
saja, sekelompok orang-orang yang aku kira menyayangi aku, orang-oarang yang
aku kira akan selalu ada disampingku. Tapi ternyata aku salah, ya aku salah
ternyata mereka malah pergi jauh meninggalkan ku. Bisa dibayangkan betapa
terpuruknya aku pada masa itu. Masa dimana semuanya terasa begitu tega, begitu
kejam meninggalkan aku yang dahulunya menjadi teman bagi mereka. Apakah mereka
tak pernah berpikir bagaimana keadaan ku tanpa mereka? Apakah mereka tak pernah
sejenak untuk peduli apa yang akan aku lakukan selepas beranjaknya mereka pergi
meninggalkan aku? Dan apakah mereka berpikir bahwa mereka sudah lelah dan bosan melihat tingkah
ku? Entah, entah yang mana yang mereka pikirkan. Bisa jadi salah satu dari itu
atau bahkan bisa jadi semuanya mereka pikirkan. Aku tak akan pernah bisa untuk
mencoba menebaknya. Yang bisa aku rasakan hanyalah kepahitan setelah menelan
manisnya rasa gula, dimana cukup kita tahu betapa jauhnya perbedaan rasa kedua
itu. Aku terlalu terpuruk akan keadaan itu, bagaimana tidak keadaannya
benar-benar jauh berubah 180 °. Aku tak pernah bisa berpikir dengan akal sehat ku
dan berpikir dengan jernihnya hati ku dikala itu. Pikiran ku berserta hati ku
terasa begitu membeku seperti batu yang tak perlu dimasukkan kedalam lemari
pendingin untuk menjaga titik bekunya. Beku seperti tak ada yang bisa aku
lakukan selepas mereka pergi, serta beku seperti tak ada lagi orang-orang yang
akan berada disekitar ku. Ya itulah betapa pendeknya dan betapa balitanya
pikiran ku untuk orang seusia ku. Tapi aku pikir itu wajar dan sah-sah saja, ya
dikala itu aku benar-benar terasa begitu bodoh. Begitu lemah seakan tak bisa
mengingat siapa diri ini, berasal dari mana, disini untuk apa, untuk berbuat
apa, dan kemana pada akhirnya. Tak pernah ada terlintas dipikiran ku hal yang
jauh seperti itu. Tak pernah terpikir bahwa semua itu memang tak ada yang abadi
tetapi semuanya itu akan silih berganti menemani. Tak pernah terpikir bahwa
semuanya ini hanyalah skenario kehidupan, dimana setiap orang bebas memainkan
peran dan karakter sesuai pilihan skenario yang mereka pilih. Padahal aku
sering berpikir bahkan mengemukakan kata-kata ini sebelumnya, sebelum pikiran
ku kacau seperti yang ku rasakan kala itu. Ya inilah hidup terkadang terlalu
banyak yang tak kita bisa mengerti. Terkadang terlalu banyak hal yang terjadi
diluar yang kita duga dan rencanakan. Terkadang hal yang menurut kita indah
belum tentu akan bahagia pada akhirnya. Sebaliknya hal yang tak pernah kita
pikirkan, hal yang tak pernah kita bayangkan bahkan hal yang tak pernah kita
rencanakan sekali pun akan berangsur-angsur terjadi dalam hidup ini. Setelah
sejenak terdiam dan berpikir sekilas tentang itu aku mulai tersadar, sadar
bahwa hidup ku ini indah. Ya ternyata inilah keindahan hidupku, betapa indahnya
hidup ini dengan semua teka teki silang yang ada untuk menghiasinya. Indahnya
hidup ini dengan semua aksi panggung para pemainnya yang sedang memerankan
perannya dengan berganti-ganti skenario sesuka hati mereka. Tak pernah ada yang
mencoba untuk berkomentar akan hal ini, bahkan sang Sutradara pun hanya diam
membiarkan mereka beraksi dipanggung sesuka hati mereka. Membiarkan mereka
mandiri dan melihat seberapa cekatan serta seberapa cerdaskah mereka dalam hal
memilih, memilih sebuah pilihan dari banyaknya pilihan hidup yang ada yang telah
dikemas dengan begitu indah sesuai dengan kodratnya masing-masing. Tentu semua
pilihan ada ditangan masing-masing mereka. Kini ku rasa tiba saatnya aku beranjak
bangun dari semua keterpurukan yang aku hadapi. Ku rasa sudah cukup waktunya
berdiam diri tanpa aksi, ku rasa sudah cukup membeku dalam dinginnya suasana
yang tak berujung. Bangkit! ya kata itulah yang seharusnya aku lakukan saat
ini, bangkit untuk kembali mengingat apa tujuan aku ada disini dan apa yang
akan aku lakukan disini. Bukankah cukup sulit bagi ku dahulu untuk merasakan
bisa hidup seperti ini, bukankah bagi ku dulu hal seperti ini hanyalah mimipi yang mungkin saja takkan
pernah bisa aku gapai. Tetapi Tuhan telah mendengarkan doa ku, doa dimana ada
keinginan kuat ku untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dan dapat
menyelesaikannya dengan baik. Apakah aku benar-benar lupa akan mimpi ku dulu
hanya karena kepergian mereka yang baru juga aku kenal di dunia kampus ini.
Mungkin bisa aku mengerti, aku yang tak pantas berteman dengan mereka atau
mereka yang kurang baik untuk berteman dengan ku. Ya kurasa jawabannya ada pada
kedua hal tersebut, karena sudah kita ketahui bahwa tuhan itu akan memberikan
jalan terbaik untuk umatnya, meskipun kita rasa hal itu bukan yang terbaik tapi
ya itulah jalan yang Tuhan berikan. Kita harus bisa mencermati hikmah apa yang
terkandung pada setiap kejadian yang menimpa kita, berpikir positif terhadap
semuanya adalah hal yang bisa kita lakukan setelah menyadarinya, maka akan ada
kesimpulan terhadap hal indah yang akan kita mengerti. Hidup ini ku rasa sangat
mudah dan indah, ketika kita bisa melintas pada poros yang ada dan sesuai
dengan orbitnya masing-masing seperti banyaknya benda angkasa di langit sana.
Mereka selalu teratur dan berputar dengan kala rotasinya masing-masing, tak ada
saling bertabrakan antar mereka. Hal itu sebenarnya bisa saja terjadi ketika
mereka tidak lagi berputar pada poros dan orbitnya. Apakah hal itu akan sama
terjadi pada kita? Ku rasa iya, hal yang sama akan terjadi pada kita,
menyerobot masuk ke dalam peran dan kehidupan orang lain tanpa tahu apa yang
kita lakukan, ketika kita tidak menyadari bahwa telah melangkah jauh dari otbit
kita.
***
Dear
sahabat baru ku, si utih..
Setelah
ku ceritakan betapa terpuruknya hari-hari ku tadi, ku rasa sudah cukup untuk
season kegalauanya. Ya telah ku rasakan indahnya kembali hidup ku ini dan telah
aku dapatkan kembali teman yang ku rasa jauh lebih baik dari mereka. Mungkin
ini yang Tuhan berikan dan Tuhan rencanakan untuk ku sebelumnya. Seperti yang
aku ceritakan tadi, ternyata memang benar kata bijak yang berkata “ Ketika
satu pintu tertutup, maka akan ada pintu-pintu lain yang terbuka, tetapi karena
kita terlalu terpuruk dan menyesali pintu yang tertutup itu terlalu lama, maka
tak terlihat akan pintu yang terbuka itu”. Ini benar-benar aku rasakan, aku
tak pernah melihat ternyata banyak sekali hal yang indah, hal yang lebih
penting yang akan aku terima dibalik dari semua apa yang terjadi pada hidup ku
ini. Tetapi karena aku terlalu sibuk dalam keterpurukan yang ku alami. Sehingga
aku tak pernah melihat sekitaran ku lagi dengan kejernihan hati ini. Tak terlihat
oleh ku masih banyaknya orang-orang yang masih sayang, orang-orang yang masih
peduli, orang-orang yang mau bercengkramah akrab dengan ku, orang-orang yang
masih ada untuk menyemangati ku, orang-orang yang masih mau membantu ku, dan
orang-orang yang selalu setia disamping ku serta memfasilitasi hidup ku selama
ini. Ya mereka ternyata masih ada disamping ku hanya saja untuk sebagian dari
mereka silih berganti dengan orang lain dan orang-orang yang baru. Dan
sepertinya hal itu tak mengapa dan tak masalah, hal yang ini tak pernah aku
sadari kala masa keterpurukan itu datang. Masih ada orang tua ku yang selalu
menyanyangiku dan tak pernah berhenti untuk itu sampai akhir mata, serta selalu
memfasilitasi hidupku yang tak dapat dihitung dengan nilai angka yang tepat.
Masih ada teman-teman yang lain yang ternyata masih peduli dan berusaha
menyemangaati ku. Masih ada sosok teman yang ku rasa lebih dominan dan selama
ini selalu mencoba membantu ku dan menghiasi hari-hari ku disemester ini tanpa
aku sadari keberadaannya secara langsung. Ya itu kamu, Si Utih. Yang tak pernah sebelumnya aku pikirkan akan keberadaan mu
disamping ku. Padahal sebelumnya kita tak pernah dekat. Kita memang berteman
sebelumnya, hanya saja pertemanan kita tergolong biasa saja hanya sebatas teman
di dalam kelas.Ya itu karena kita sebelumnya aku hanya berpaku pada satu bahkan
sekelompok teman saja. Diri mu sering terlihat dimata ku, sering juga betegur
sapa bahkan bercanda tawa sebelumnya, tapi hanya sebatas basa-basi saja dalam
sebuah interaksi sosial sebagai teman. Dalam penglihatan ku dulu diri mu itu
sangat pendiam dan terlihat ayu dengan balutan pakaian yang sering kau gunakan
saat dikampus, terlihat anggun dengan sikap yang penuh kelembutan. Sepertinya
semua juga akan sependapat dengan ku akan hal yang aku katakan ini. Ya aku
kagum dengan cara mu, pernah juga terlintas dalam pikiran ku untuk berteman
akrab dengan mu tapi aku tak pernah tahu bagaimana cara untuk memulainya. Aku
berpikir jika aku bisa berteman dengan mu mungkin sikap ku akan berubah sedikit
pendiam dan terlihat ayu seperti mu, ya tentu saja aku berpikir teman sangat
mempengaruhi kita dalam hidup ini apalagi setelah hal yang aku ceritakan
sebelumnya tadi. Hal ini ku rasakan setiap harinya, aku berusaha untuk
memantaskan diri ku, berubah menyesuaikan keadaan untuk bisa beradaptasi dengan
mu. Ku rasa hal ini bisa sedikit membuka jalan ku untuk berteman dengan mu,
karena aku pikir diri mu bukanlah seperti teman-teman yang lain yang sering
bersenda gurau dengan ku, ku pikir diri mu hanya akan berbicara sepentingnya
saja mengingat hal apa yang akan kamu bicarakan. Dengan berbagai pertimbangan
inilah aku berusaha untuk bisa berteman dengan mu, image positif yang ada pada
pikiran ku tentang mu yang menjadi keinginan kuat ku untuk bisa berteman akrab
dengan mu. Dan tentu dalam harap ku, kamu itu bukan seperti teman-teman ku yang dulu berada
disampig ku dan pada akhirnya pergi meninggalkan ku. Ku rasa kau tak sama
dengan mereka, ku rasa kau mempunyai pemikiran yang berbeda dan akan bersikap
lebih bijak dari mereka ketika tingkah ku mungkin pada saatnya nanti membosankan
bagi mu. Ya itulah secerca harapan yang ada dibenak ku dulu sebelum ku bisa
berteman akrab dengan mu, yang intinya aku sangat berharap akan ada sedikit
perubahan pada diri ku ketika aku bisa berteman dengan mu dan hadir mu akan
menuntun ku lebih baik lagi dari saat ini. Tanpa ku sadari ternyata sekarang
hal itu terjadi, sekarang aku merasa bisa berteman akrab dengan mu. Di akhir
semester tiga ini ku rasa banyak sekali hal-hal indah yang ku lalui bersama mu
kawan, banyak sekali cerita yang bisa ku tulis bersama mu, banyak sekali
pelajaran yang bisa aku ambil yang telah aku lalui bersama mu. Entah dari mana
awalnya aku tak tahu pasti akan hal ini, semuanya berjalan begitu saja. Yang ku
ingat kerja kelompok yang membuat kita bisa seakrab ini, karena seperti yang
aku ingat disemester ini sering sekali kita kerja kelompok bareng. Mungkin
itulah awal dari keakraban kita, selain itu mungkin ini juga adalah jalan yang
diberikan Tuhan setelah banyaknya harapku untuk bisa berteman akrab dengan mu.
Atau mungkin bisa jadi ini pertanda bahwa Tuhan pun sependapat dengan yang ada
dipikiran ku tentang mu seperti yang aku ceritakan tadi, ya bisa jadi. Bahwa
hadir mu akan membawa perubahan lebih baik lagi pada diri ini dan menghiasi
hari-hari ku dengan lebih indah lagi. Itu memang benar terjadi karena seperti
yang ku rasakan betapa indahnya hidup ku setelah ku bisa mengenal mu sebagai
teman akrab ku. Kita bisa bercerita bersama, bercengkramah tentang suatu hal
yang sama dan sedang kita pikirkan. Kita menyelesaikan tugas kuliah bareng,
nonton bareng, hunting foto bareng, seru-seruan bareng, bahkan aku ingat sekali
sebelum hal yang kita lakukan bersama ini sebelumnya kau telah memeberikan aku
kepercayaan sekaligus menolong ku, ya aku ingat kejadian yang mana kau bersedia
meminjamkan uang kepada ku untuk keperluan study tour yang diadakan oleh prodi
kita, uang yang mau ku pinjam juga tidak dalam jumlah yang sedikit tetapi kau
tak ragu untuk meminjamkannya. Padahal kita belum begitu akrab pada saat itu,
tanpa curiga dan dengan kebaikan hatimu kau bersedia meminjamkannya pada ku.
Untuk berniat meminjam kepada mu itu saja aku perlu berpikir ulang, berpikir
apakah kau akan mau meminjamkannya pada ku, sempat aku berpikir untuk meminjam
dengan teman yang aku anggap akrab dengan ku sebelumnya, tapi sontak terlintas
dipikiran ku bahwa dia tak akan meminjamkannya kepada ku dengan alasan yang
bisa ku tebak. Kembali aku terpikir untuk tetap meminjamnya kepada mu, lewat
pesan singkat SMS ku sampaikan maksud dan keperluan ku terhadap mu. Dan tak seberapa
lama kau mengiyakan keinginan ku itu. Yang tak ku sangka sebelumnya kau akan
meminjamkan uang mu kepada ku. Dari situ aku tambah merasakan kebaikan mu,
bukan hanya itu masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang kau berikan kepada ku
teman yang hanya bisa ku ingat dan ku ucapkan terimakasih berharap Tuhan akan
membalasnya. Setiap hari ku lalui hari-hari ku bersama mu pada semseter tiga
ini, ada yang merasakan bahagia dengan kedekatan kita ada juga yang mencoba
mengusik karena alasan ketidak senangannya melihat keakraban kita. Ada yang
berkomentar bahwa aku telah mengubah mu, dirimu berubah setelah mengenal ku.
Sempat aku tercambuk apakah seburuk itu diri ini. Setelah dulu orang-orang
sekitar ku menjauh dari ku, kini aku di judge telah merubah diri mu. Entah itu
memang benar atau hanya pendapat dari ketidak senangan sebagian mereka. Tapi
aku rasa juga seperti itu diri mu setelah berteman dengan ku, jadi ikut acara
makrab dan begadang malem bersama teman-teman lainnya. Yang mereka saja tidak
percaya kau akan ikut. Diri mu yang dulu sering berteman dengan mereka sekarang
jarang bergabung. Mungkin karena itu mereka berpikiran aku telah merubah mu.
Aku minta maaf jika hal itu memang benar terjadi, aku minta maaf jika aku benar-benar
telah merubah mu, cukup kau yang bisa merasakan apakah benar setelah berteman dengan
ku terjadi perubahan yang jelek pada mu. Jika ia silahkan sampaikan kepada ku
sebagai bahan intropeksi akan diri ini. Aku tak mau hanya karena aku, dirimu
akan menjadi bahan komentar bagi mereka yang kurang menyukai ku. Aku sadar
mungkin tingkah ku selama ini berlebihan, mungkin diri ku selama ini telah
mengusik kenyamanan mereka. Tapi aku merasa kehadiran mu telah banyak mengubah
hidup ku menjadi lebih baik lagi dan sangat mewarnai hidup ku kawan. Entah
kalau kamu apa yang kamu rasakan? Apakah sama dengan yang ku rasakan, ataukah
malah sebaliknya, merasa seperti komentar mereka tadi. Kawan ku harap kebersamaan
kita disemester ini tidak hanya berakhir pada semeseter ini saja, karena aku
tak mau hidup ku sepi seperti sebelumnya kawan. Sepi dimana seperti sebelum
kita berteman akrab dan serasa dulu seperti disaat orang-orang terdekat ku
pergi meninggalku. Jika nanti kawan tingkah ku membosan bagi mu, janganlah
engkau pun beniat akan pergi juga meninggalkan ku. Karena seperti harap ku
diawal, kau akan sedikit lebih bijak bersikap kepada ku. Tolong jika nanti
tingkah ku salah dan berlebihan serta dapat membosankan bagi mu silahkan kau
sampaikan kepada agar aku bisa segera sadar dan memperbaikinya. Sehingga aku
tidak terlambat menyadari seperti halnya dulu. Aku berharap kita akan selalu
kompak dan selalu bersama disemester depan, semester selanjutnya dan
selanjutnya bahkan selamanya. Aku tak mau hidup ku sepi seperti sebelumnya. Karena
jujur susah bagi ku untuk beradaptasi pada dunia kampus ini, satu tahun dan
selama dua semster lalu aku berada di kampus ini aku belum merasakan
kenyamanan, aku belum bisa mendapatkan teman yang benar-benar pas buat ku. Hql
ini sering aku utarakan kepada sahabat jauh ku yang tak bisa menemani ku
seperti kau menemani ku saat ini disini. Bahkan aku juga pernah bercerita
kepada mu bahwa semester inilah aku merasakan indahnya hidup, merasakan hidup
bebas, hidup seperti para mereka diluaran sana, hidup yang aku inginkan dan
hidup yang aku suka. Ya itu bukan hanya sekedar kata-kata indah belaka saja
kawan, tapi itu benar-benar aku rasakan, ku rasakan betapa indahnya hari-hari
ku setelah aku mengenal mu, setelah aku bisa melalui hari-hari ku bersama mu
kawan. Terimakasih untuk hari-hari indah disemester ini dan dalam harap ku kau
tak akan merasa lelah dan bosan terhadap diri ku. Dan teruslah bersama ku
hingga waktu yang mungkin akan benar-benar membuat kita terpisah..
***
Inilah
secerca cerita dan harap ku bersama mu kawan diakhir semester tiga ini, bagian
ini adalah salah satu bagian dari cerita yang akan aku muat dalam buku ku
nanti, semoga bisa kecapai dan kesampaian niatnya. Aamiin..
Terimakasih
kawan..
terharu utih bacanya jo...... ;(
BalasHapus